[Seri Kajian Sirah] Belajar dari Kisah Hatib ibn Abi Balta’ah Radhiallahu’anhu | By @BungAji

Kafilah_background-artikel-Sirah

PKS Kota Tangerang - Ketika sedang mencari sebuah alamat di kota Riyadh dengan menggunakan googlemaps, saya dapati nama jalan yang rasanya cukup familiar dalam sebuah torehan sejarah Islam, jalan itu bernama Hatib ibn Abi Balta’ah di sebuah distrik Ummul Hamaam. Siapakah ia ?

Begini ceritanya…

Pada suatu hari, sekitar  empat belas abad yang lalu, ada seorang sahabat Rasul mengirimkan sepucuk surat yang dikirimkan ke kota Mekkah, dia adalah Hatib bin Abi Balta’ah, seorang veteran Perang Badr. Beliau mengirimkan surat yang berisikan kabar bahwa Nabi Muhammad dan kaumnya sedang mengadakan persiapan ke Makkah. Surat tersebut dititipkan kepada Sarah, seorang budak dari banu Abdul Muttalib.

Surat ini jelas membahayakan keselamatan kaum Muslimin yang ingin membebaskan kota Makkah (Fathu Makkah) dari kaum kafir Quraisy, karena kalau ketahuan, pastilah sejarah mencatat Pembebasan kota Makkah akan diwarnai pertumparahan darah.

Allah pun menunjukkan kekuasaan-Nya, mengirimkan wahyu kepada Nabi Muhammad terkait potensi kebocoran rahasia ini. Dengan segera, Rasul pun mengutus kedua sahabat Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam untuk mengejar Sarah. Perempuan itu pun disuruh turun dari untanya, dan dicarinya surat itu, namun tidak ditemukan. Diperingatkanlah kepada Sarah kalau surat itu tidak dikeluarkan, merekalah yang akan membongkar dan menggeledah paksa Sarah. Ternyata, surat itu disimpan dalam ikatan rambut perempuan itu. Dibawalah perempuan itu ke Madinah, dan dipanggilnya Hatib untuk dimintai klarifikasi oleh Rasul.

Tercatat dalam sejarah, Hatib memberikan penjelasan kepada Rasulullah Muhammad Shallahu’alaihi wa sallam mengapa ia sampai berencana membocorkan rencana Fathu Makkah,

“Rasulullah”, kata Hathib, “demi Allah, saya tetap beriman kepada Allah dan kepada Rasulullah. Tidak ada keraguan sedikitpun pada diri saya. Saya tidak punya hubungan keluarga atau kerabat dengan mereka, tetapi ada seorang anak saya dan keluarga di tengah – tengah mereka, saya hanya bermaksud menyelamatkan mereka”

Sahabat Umar ra pun segera spontanitas menawarkan kepada Rasul agar Hatib dipengal lehernya, dengan mengatakan “orang ini bermuka dua”.

Lalu Rasul pun menjawab, “Dari mana Anda Tahu itu, Umar?. Mudah – mudahan Allah sudah menempatkan dia sebagai orang – orang Badr ketika terjadi Perang Badr.”

Kemudian Rasulpun memaafkannya dengan berkata,

I’maluu Maa Syi’tum Faqad Ghafartu Lakum

“Berbuatlah sekehendak kalian. Sudah kumaafkan kalian”

Ketika itu pula turun firman Allah (Al Quran surah Al Mumtahanah ayat 1) :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Setelah insiden itu, tidak lama kemudian pasukan Muslimin bergerak menuju Makkah dan membebaskan kota itu dan menjadi salah satu tonggak sejarah kemenangan yang paling gemilang yang pernah diraih oleh Ummat Islam.

Dari kisah ini tampak jelas bahwa teladan Rasul sebagai Qiyadah (Pemimpin) tidak serta merta emosional menerima tawaran Umar untuk memenggal leher Hatib, apalagi dengan membakarnya, namun dengan mudah memaafkan Jundinya,  meski melakukan kesalahan yang cukup fatal dalam Jama’ah.  Jikalau Rasul menerima tawaran tersebut, maka dengan mudah fitnah berhembus kepada Ummat Muslim bahwa Rasulnya telah membunuh sahabatnya. Rasul melihat Hatib sebagai orang besar dalam islam, yang juga sebagai ‘veteran’ perang Badr, namun Rasul juga melihat di sisi lain, Hatib juga memiliki kelemahan yang kadang menekan jiwanya sendiri dan menghanyutkannya ke dalam masalah yang memang tidak dikehendakinya.

Jadi, dalam sejarahnya, orang – orang yang termasuk dalam generasi terbaik, yang tersebut dalam hadits “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya lagi” [1] pun, ada yang melakukan kekeliruan, bahkan ada yang cukup fatal seperti yang dilakukan Hatib, namun karena Allah telah menjaga generasi terbaik tersebut, Allah pula yang secara ‘langsung’ menyelamatkan mereka dengan bimbingan Rasul-Nya, dan orang-orang yang terdekat dengan Rasul (Sahabat dan Khulafaur Rasyidin).

Konteks Kekinian 

Setelah lebih 14 abad berlalu, kasus seperti Hathib sangat bisa jadi terulang, bahkan  bentuk kebocoran rahasia dan dampaknya lebih massif kepada Jama’ah, organisasi, ataupun kepada publik dengan berbagai kemajuan dalam media dan informasi. Berbagai sarana room chat seperti Whatssap, Telegram, LINE, WeChat, email, sms, dsb, kalau tidak dikontrol dalam penyebaran informasi, akan sangat rentan dalam membocorkan “rahasia dapur” internal organisasi.

Apalagi, jika ada jundi (anggota) yang berpindah ke organisasi atau wajihah lain, ada yang sendiri (tidak berjama’ah) lagi karena futur, bahkan ada fenomena jundi yang dikeluarkan dari organisasi kemudian mengaku sedang membeberkan segala macam rahasia. Jika Jama’ah atau organisasi ini lemah sistemnya, maka bukan tidak mustahil, pelan tapi pasti sendi sendi  organisasi akan hancur karena para anggotanya tidak taat dalam menjaga kerahasiaan.

Membangun Jama’ah yang Kokoh dan Bekesinambungan

Diperlukan kekuatan dalam internal organisasi dalam menghadapi ‘virus’ atau penyakit pembocor rahasia organisasi. Maka dari itu, Ustadz Anismatta mengingatkan pada kita semua agar sebuah organisasi kokoh, kuat, dan berkesinambungan, sistem Jama’ah (organisasi) harus mampu mewadahi 3 hal :

    Mendorong dinamika pertumbuhan (berbasis pd kompetensi,berorientasi pembelajaran dan inovasi).
    Menyerap keragaman (harus yang berbasis pada syuro dan tradisi pengetahuan).
    Immun terhadap ‘Virus’ (berbasis pada hukum yg ketat dan standar etika yg tinggi).

Kalau memang ada seorang atau beberapa Jundi yang berniat untuk Amar Ma’ruf Nahi munkar kepada internal organisasi maka harus dengan cara yang baik (ahsan) sesuai dengan prosedur dan aturan organisasi tersebut, dan harus berlapang dada atasnya, bukan dengan membeberkan segala macam aib dan atau kekurangan organisasi kepada publik yang dapat mengakibatkan kekacauan informasi, sebuah potensi fitnah bagi organisasi.

Mari kita semua berpegang erat satu sama lain, menguatkan ukhuwah, berpedoman pada Qur’an dan Sunnah, pada Shirah Nabi, Sahabat, dan para Salafush Shalih serta meningkatkan amal agar Allah selalu menjaga organisasi (atau Jama’ah apapun dan dimanapun kita berada) dari segala penyakit dan serangan, menjaga para Qiyadah  kita agar tetap mampu menjalankan amanahnya agar kelak Allah akan menurunkan pertolongan-Nya di setiap langkah perjuangan.

Wallahu’alam

Aji Teguh Prihatno
pks-riyadh.org 

author
No Response

Leave a Reply