4 Kecerdasan yang Harus Dimiliki Wanita Perindu Surga


Sample Image

Sahabat Ummi para perindu surga, ada sebuah hadist yang sudah sangat populer mengenai amalan wanita sehingga dijaminkan kepadanya surga. Hadits tersebut salah satunya diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, berbunyi:

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : "Jika seorang perempuan selalu menjaga sholat lima waktu, berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan) serta menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya : Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu suka". (H.R Ibnu Hibban dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Sepintas terlihat syaratnya amat mudah, bukan? Imbalannya pun tak tanggung-tanggung: surga. Tapi ada rahasia di baliknya yang mesti kita tahu lho, kalau memang kita benar-benar merindukan surga.

Ustad Bendri Jaisyurrahman pernah menyinggung soal rahasia ini dalam salah satu seminarnya(1). Keempat amalan tersebut harus mampu menumbuhkan empat kecerdasan yang terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari seorang wanita. Kita simak yuk…

1. Sholat 5 Waktu : Kecerdasan Menahan Diri dari Kejahatan Batin dan Fisik

Dalam Al-Quran disebutkan, "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar." – (QS Al-Ankabut (29) ayat 45)

Sholat yang berbuah tiket surga bagi seorang wanita pun tak luput dari syarat ini. Sholat wanita tersebut harus mampu menumbuhkan dalam dirinya, sebuah kecerdasan menahan diri dari perbuatan keji dan mungkar.

Perbuatan keji dan mungkar dalam konteks rumah tangga dapat berupa kejahatan batin dan kejahatan fisik yang dilakukan wanita tersebut. Kejahatan batin misalnya sikap suka menggerutu, suka mengomel, suka mencela, suka berprasangka buruk, suka bergunjing (baik dalam hatinya sendiri maupun mulutnya), suka menyimpan dendam, terutama terhadap suaminya dan anak-anaknya. Tak salah jika dalam hadits lain Rasulullah SAW pernah bersabda :

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

Kejahatan fisik yang dilakukan wanita misalnya tangan yang suka memukul, kalimat yang menyakiti, tangan yang mencubit, kaki yang menendang, terutama terhadap anaknya atau suaminya.

Inilah kecerdasan yang harus dimiliki seorang wanita sebagai buah dari sholat 5 waktunya, kecerdasan menahan diri dari kejahatan batin dan fisik. Kecerdasan yang tak mudah diperoleh.

Kebanyakan wanita pasti pernah mengomeli anaknya, pernah menggerutu jika sikap suami tak sesuai dengan harapannya, pernah berprasangka buruk jika suaminya pulang terlambat, pernah tak tahan bergosip ria saat bertemu teman-teman sosialitanya, pernah menyimpan dendam saat dilukai hatinya oleh suami, pernah menjewer kuping anaknya atau bahkan mencubit saking kesalnya. Karena kecerdasan ini sulit diperoleh, maka wajarlah jika imbalannya surga.

Jika seorang wanita mengaku merindukan surga namun masih belum memiliki kecerdasan menahan diri dari kejahatan batin dan fisik seperti contoh di atas, maka saatnya menelisik kembali sholat 5 waktunya.

2. Puasa Ramadhan : Kecerdasan Menahan Diri dari Sikap Konsumtif

Bahkan dalam hadits di atas dikatakan, puasa ramadhan saja bisa mengantarkan tiket surga bagi seorang wanita, tanpa menyinggung puasa sunah. Tentu saja kualitas puasa yang dimaksud bukan hanya sekedar menahan diri dari rasa lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Dalam konteks rumah tangga, puasa ini harus mampu menumbuhkan kecerdasan dalam diri wanita tersebut untuk menahan diri dari nafsu perut dan nafsu konsumtif lainnya.

Nafsu perut misalnya ingin makan enak terus sehingga berbelanja bahan-bahan makanan secara berlebihan, atau terlalu sering jajan di restoran karena malas memasak. Keduanya tentu memakan biaya yang tak sedikit. Akibatnya keuangan keluarga jadi timpang, pengeluaran lebih besar daripada pendapatan, lalu berhutang, hutang menumpuk, pusing bayarnya.

Kebiasaan suka ngemil berlebihan juga bisa masuk kategori ini. Masak makanan enak atau makan di restoran tentu saja tidak dilarang, selama keuangan keluarga tidak terganggu dan tidak sengaja mengurangi kemampuan zakat, infak dan sedekah demi memuaskan nafsu perut secara berlebihan.

Shopping, shopping, shopping! Ini juga sikap konsumtif yang harus bisa ditahan seorang wanita perindu surga. Shopping sendiri tidaklah dilarang, yang sebaiknya ditahan adalah shopping sesuatu barang yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan, misalnya shopping barang sekunder, tertier atau malah kwartier. Tidak semua barang yang kita inginkan harus kita peroleh bukan?

Bahkan Umar bin Khattab pernah memberi ingat anaknya, Ibnu Umar yang suatu hari membeli daging karena sangat ingin makan daging : Apakah setiap makanan yang kamu inginkan harus kamu makan? Cukuplah seseorang dikatakan pemboros apabila ia memakan apa saja yang diinginkannya.” (2)

Wanita perindu surga harus mampu menahan diri dari sikap konsumtif. Menentukan skala prioritas belanja keluarga sesuai keuangan keluarga adalah sikap terbaik. Tentu juga tanpa terbersit niat mengurangi kemampuan berzakat, infak dan sedekah.

Tak mudah, tentu saja. Wanita mana yang menolak makan enak dan berbelanja, apalagi kalau sedang cuci gudang. Menolak diskon 50% di sebuah restoran atau Clearance Sale di barisan pakaian indah di sebuah mall bukan perkara mudah. Tapi kalau kita termasuk wanita perindu surga, cobalah menahan diri kalau memang bukan kebutuhan mendesak.

3. Menjaga Kemaluan : Kecerdasan Menahan Diri dari Nafsu Seksual

Ada wanita yang berpendapat, bahwa menjadi ‘teman tapi mesra’ dengan rekan pria itu sah-sah saja selama tidak berhubungan badan. Ini bukanlah ciri wanita perindu surga. Wanita perindu surga akan mengartikan kata ‘menjaga kemaluan’ dengan menjaga apapun yang mengarah kepada nafsu seksual, baik nafsu seksual dirinya sendiri maupun nafsu seksual lawan jenisnya.

Inilah kecerdasan ketiga. Wanita perindu surga harus memiliki kecerdasan menahan diri dari sikap agresif terhadap laki-laki yang bukan suaminya. Agresif dalam sikapnya saat bertemu, dalam tulisannya saat berpesan, dalam pandangan matanya saat lupa ditundukan, dalam tawa dan suaranya saat berbicara, ataupun dalam senyumnya saat tak sengaja berpapasan, bahkan dalam fotonya saat diunggah dalam media sosial.

Wanita masa kini, memiliki akses yang lebih luas untuk berinteraksi dengan masyarakat. Tak jarang dalam satu profesi, ada kondisi di mana wanita tak bisa menghindar dari berinteraksi dengan laki-laki yang bukan suaminya.

Kecerdasan menahan diri dari sikap agresif, apalagi yang mengarah pada nafsu seksual, menjadi super penting dibandingkan zaman dulu. Bukan hanya demi memelihara sakinah bersama suami saat ini, tetapi lebih karena tunduk pada perintah Allah. "Dan, janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya, zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” -   ( QS Al-Israa’ (17) ayat 32)

4. Taat Kepada Suami : Kecerdasan Menahan Diri dari Nafsu Akal

Di masa kini, akses wanita memperoleh pendidikan sudah sangat luas. Wanita boleh mengenyam pendidikan sampai level mana saja yang diinginkannya. Wanita bergelar sarjana, magister, doktor tersebar hampir di semua profesi yang ada. Tak jarang, wanita menempati jabatan lebih tinggi daripada laki-laki. Tapi dalam agama Islam, setinggi apapun pendidikan wanita tersebut, ia tetap mendapat satu tantangan berbuah surga : taat kepada suami.

Merasa berpendidikan tinggi seringkali membuat wanita lupa untuk mengasah kecerdasan yang satu ini, kecerdasan menahan diri dari nafsu akal. Kecerdasan untuk tidak suka mendebat suaminya.

Seorang istri boleh saja lebih berpendidikan dari suaminya, lebih kaya dari suaminya, memiliki status sosial lebih tinggi dari suaminya, lebih cantik dibandingkan suaminya yang biasa saja, lebih segala-galanya. Tapi perindu surga harus cerdas menahan diri agar semua kelebihannya itu tidak menjadikannya suka mendebat keputusan suaminya. Tahu adabnya jika ingin memberi pendapat atau masukan pada suaminya, sehingga tidak membuat suaminya tersinggung atau marah.

Jika pendapat atau masukannya tidak diterima suamipun, tidak lantas membuatnya sakit hati, tersinggung, marah atau menggerutu. Keputusan suami, selama masih dalam koridor agama, tetapi dipatuhinya dengan ikhlas. Ini adalah suatu ketrampilan, suatu kecerdasan. Khadijah, istri pertama Rasulullah SAW adalah contoh sempurna istri yang memiliki kecerdasan menahan diri dari nafsu akalnya.

Berkarakter qona’ah (sikap menerima), pandai bersabar dan bersyukur adalah ciri mudah mengenali wanita yang telah mampu mengamalkan keempat kecerdasan ini.

Referensi:

(1) Belajar Ilmu Parenting dari Para Nabi dan Orang Sholeh (Bagian 3)

(2)Pemuda-pemuda di sekitar Nabi SAW, Dr Muhammad Husni Musthafa, Bab Abdullah bin Umar, hal 258, Sukses Publishing, 2013

Foto ilustrasi: Google

Profil Penulis:

Pida Siswanti, ibu dua anak tinggal di Depok. Selain bergiat di Komunitas Ummi Menulis, sehari-harinya juga bergiat mendesain pengalaman yang ingin dipaparkan pada anak-anaknya agar mereka mengenal Tuhannya dengan lebih baik.

 

Sumber: ummi-online.com

author
No Response

Leave a Reply