Mahfudz Siddiq : Indonesia Terjebak Perangkap Populisme

IMG_0142-0.JPG
JAKARTA - Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Shiddiq, mengatakan banyak tokoh di luar negeri melihat Indonesia masuk dalam perangkap populisme yaitu satu situasi dimana negara  mengalami situasi kemiskinan panjang yang memunculkan satu mainstream untuk memunculkan pemimpin dikalangan mereka.
 
“Itu berbeda dengan gerakan sosialisme yang muncul dari adanya perbedaan kelas. Populisme ini  membuat masyarakat ingin memiliki pemimpin yang mereka anggap dari kalangan mereka. Ini bisa lancar jalannya  karena sistem politik kita yang mendukung karena menggunakan suara terbanyak, juga karena psiko politik masyarakat terpenuhi kebutuhannya,” tegas Mahfudz pada wartawan di Jakarta, Rabu (25/3).
 
Tapi apakah pemimpin populis yang terpilih mampu menjawab persoalan negara, seperti persoalan ekonomi, sosial,politik dan sebagainya itu masih harus dibuktikan.”Jokowi sosok populis karena dianggap berasal dari grassroad. Tapi dengan kondisi sekarang dia harus bernegosiasi dengan kekuatan elit formal.Begitu juga Ahok di Jakarta,dia bisa disebut populis dengan gayanya,cuma apakah dia punya kemampuan proses poliitik elit? yang berbeda dengan proses politik di akar rumput?” tanya Mahfudz.
 
Yang biasa terjadi tipikal pemimpin populis,dibutuhkan satu bangsa yang dalam tahap revolusi. Pemimpin populis diperlukan karena bangsa yang sedang berevolus membutuhkan soliditas maker.”Yang terjadi kan saat ini para pemimpin itu harus bernegosiasi dengan para elit.Ini sekarang yang menjadi pertanyaan, mampukan mereka,” ujarnya.
 
Terkait umur pemimpin populis seperti Jokowi yang saat ini banyak anggota masyarakat sudah mulai meninggalkannya dan kehilangan kepercayaan karena fakta yang kondisi dan situasi Indonesia yang tidak kondusif, Mahfudz mengatakan bahwa umur psiko politik itu dibatasi oleh perut masyarakat sendiri. Jika sampai perut masyarakat tidak terpenuhi oleh rezim berkuasa maka rezim tersebut akan selesai.
 
”Masyarakat akan melihat nanti. Saat ini kan masyarakat mulai melihat pemimpinnya.Mereka memperhatikan segala tindak tanduk pemipin dengan fakta yang ada. Tentunya masyarakat akan tertawa kalau pemimpin mengatakan kok bensin sudah turun harganya, tapi harga-harga gak turun?Memang sejak kapan masyarakat merasakan kalau bensin turun harga-harga turun?Yang ada kan bensin naik harga iikut  naik, karena pasar tidak dikuasai pemerintah,” pungkasnya.(mnb)
 
sumber : sorotnews.com
author
No Response

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.