Watak dan Interaksi Dalam Berjamaah

No comment 1128 views

interaksi sosialpks-kotatangerang.org - Watak dasar seorang manusia adalah pemberian dari Tuhan. Kita beramal di muka bumi berlandaskan watak yang telah Allah swt tentukan. Watak melekat dalam kepribadian, menjadi keistimewaan, menjadi keunggulan, dan menjadi cerminan.

Tetapi tetap ada kelebihan dan kekurangan dari watak yang diberikan Tuhan. Karena semua itu dalam rangka ujian dan perlombaan untuk meraih amal terbaik. (Lihat QS Al Mulk: 2). Dan terhadap watak yang buruk, Islam hadir untuk meng-upgradenya.

Dalam surat Al-Ma'arij, Allah swt menjabarkan watak dasar manusia. "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir." (QS 70: 19-21)

Kemudian ajaran-ajaran Islam lah yang memperbaiki watak buruk itu. 

"Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat." (QS 70: 22) Pada ayat itu Allah swt memberi petunjuk menghapus watak buruk yang telah disebutkan pada ayat 19-21. Petunjuk lain juga ada pada ayat-ayat berikutnya hingga ayat 34.

Yang di-upgrade oleh Islam tentu saja watak yang buruk. Untuk watak yang netral atau watak yang baik, tentu dibiarkan begitu adanya. Sebagaimana watak tegas Umar bin Khattab r.a. ketika jahiliyah, setelah masuk Islam watak itu tetap melekat. Juga sifat pemalu Utsman bin Affan r.a. yang tetap ada sebelum dan sesudah masuk Islam. Pun sifat pemurah Abu Bakar r.a. dan karakter pemberani Ali bin Abi Thalib r.a.

Ya, kita semua beraktivitas dan menyikapi segala sesuatu berdasarkan watak spesifik yang sudah Allah tetapkan pada diri kita. Selama itu baik, semua itu normal saja tak perlu diatur-atur.

Kecuali.... Hingga kemudian kita bergabung dalam sebuah komunitas atau organisasi yang kita telah berjanji untuk membersamai kelompok itu untuk tujuan tertentu. Wajar bila kemudian kita mengatur watak sedemikian rupa demi orientasi-orientasi tertentu.

Yang terjadi adalah mengontrol perilaku yang muncul dari watak, bukan menghapus watak itu sama sekali.

Dalam organisasi dakwah, watak-watak yang telah disibghoh dengan ajaran Islam haruslah dijadikan padu dan menjadi sebuah orkestrasi yang indah untuk kepentingan umat Islam.

Ingatlah, Umar bin Khattab r.a. pernah tersulut provokasi orang munafik Abdullah bin Ubay bin Salul yang ingin mengusir kaum Muhajirin sepulang perang dari Bani Mushtaliq. Namun Rasulullah saw menahannya. Dan ia harus tunduk.

Begitu juga kemarahan Umar bin Khattab r.a. ketika mendapati seorang Baduy yang kencing di masjid. Wataknya harus ditundukkan karena ada arahan dari qiyadah (pemimpin).

Bila para da'i yang masing-masing individu memiliki karakter spesifik mau diatur dalam barisan jamaah dakwah, tentu akan indah. Dan kewenangan mengatur itu ada pada syuro dan qiyadah.

Seperti nasyid acapella, suara dua yang mengambil nada lebih tinggi dari suara vocal, harus tahu diri untuk tidak terlampau mengeraskan volume suaranya. Kalau tidak, suaranya akan jadi dominan.

Seperti perintah dalam baris berbaris ketika diminta maju lima langkah. Yang kakinya panjang atau kakinya paling pendek harus menyelaraskan dengan yang lain.

Andai bisa, beban dakwah ini dipikul sendiri tanpa harus tunduk kepada sebuah kelompok. Tapi sunnatullah berlaku, dakwah ini mesti dikerjakan dengan amal jama'i. Kecuali tidak ada lagi yang mau memikul tugas dakwah kecuali kita sendiri. Lihatlah, para Nabi pun memiliki sahabat dan penolong-pengolongya. Mereka bekerja bersama.

Dan yang Allah swt inginkan dalam Al-Qur'an adalah sebuah jamaah yang memikul beban dakwah, bukan suatu individu. "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung"

Jadi begitulah. Ada kalanya watak pribadi harus tunduk oleh sebuah ketentuan jamaah dakwah bila kita bergabung di dalamnya.

 

sumber : anonym

author
No Response

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.