Shalat Gerhana, Ini Penjelasan Ketua Dewan Syariah PKS Kota Tangerang

 gerhana_bulan_20150404_143138

pks-kotatangerang - Peneliti, masyarakat, turis, dan pemerintah mulai bersiap menyambut gerhana matahari total, 9 Maret 2016. Gerhana matahari adalah fenomena langka yang jadi buruan manusia sejak dulu. Kali ini istimewa karena wilayah daratan yang dilalui gerhana total hanya Indonesia.

Jalur totalitas gerhana membentang dari Samudra India hingga utara Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat. Jalur gerhana itu selebar 155-160 kilometer dan terentang sejauh 1.200-1.300 kilometer, yang kali ini melintasi 12 provinsi di Indonesia.

Provinsi-provinsi itu adalah Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung. Selain itu, semua provinsi di Kalimantan (kecuali Kalimantan Utara), Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara juga dilintasi. Namun, tidak semua daerah di provinsi itu dilintasi jalur totalitas gerhana.

"Lama gerhana matahari total (GMT) di Indonesia 1,5-3 menit," kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, di Jakarta, dikutip dari nationalgeographic.co.id Jumat (15/1) lalu.

Meski Banten secara khusus Kota Tangerang tak mengalami, tapi euforia gerhana ternyata menghinggapi penduduk kota yang berbatasan dengan Jakarta ini. 

Sebagai seorang muslim kita mengimani bahwa tak ada satupun kejadian di muka ini yang terjadi secara kebetulan tanpa campur tangan Allah SWT. Ada sunnah Rasulullah yang bisa kita kerjakan saat terjadi gerhana, di antara nya adalah shalat gerhana. 

Ketua Dewan Syariah Daerah (DSD) DPD PKS Kota Tangerang Nirwan Nazaruddin Lc, MIS. ketika dihubungi via telepon terkait seluk beluk sunnah shalat gerhana memberikan penjelasan lengkap sebagai berikut :

FIQH SHALAT GERHANA

Defenisi

  • Kusuf (الكسوف) adalah hilangnya cahaya dua sumber cahaya (matahari atau bulan) atau sebagiannya, berubah menjadi gelap.
  • Dalam pemakaian katanya, (الكسوف) biasa dipakai utk gerhana matahari dan (الخسوف) utk gerhana bulan.
  • Shalat kusuf: shalat yg ditunaikan dengan cara yg khusus saat terjadi gerhana bulan atau matahari, total ataupun sebagian.

Hukum Shalat Gerhana Matahari (الكسوف)

Ada dua pendapat:

  1. Menurut mayoritas ulama’ (jumhur) shalat gerhana matahari hukumnya sunnah mu’akkadah.
  2. Menurut Abu ‘Awanah dan satu riwayat dari Imam Abu Hanifah, hukumnya wajib. Sementara Imam Malik menyamakannya dengan shalat Jum’at. Pendapat ini dikuatkan oleh asy-Syaukany, Shiddiq Khan dan Syekh al-Albany.

Merujuk pada dalil-dalilnya, wallahu a’lam, pendapat kedua lebih kuat. (Shahih Fiqh as-Sunnah wa Adillatuhu 1/432)

Hukum Shalat Gerhana Bulan (الخسوف)

Ada dua pendapat:

  • Hukumnya sunnah mu’akkadah dan ditunaikan berjamaah seperti shalat gerhana matahari. (Mazhab Syafi’i, Imam Ahmad, Daud azh-Zhahiriy dan Ibnu Hazm. Ini juga pendapat ‘Atha’, al-Hasan, an-Nakha’i, Ishaq dan satu riwayat dari Ibnu Abbas ra. Dalil pendapat ini:

     

     

     

    • Hadits al-Mughirah ra bahwa Nabi s bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ (رواه البخاري ومسلم)

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dimana keduanya tidak mengalami gerhana oleh sebab kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian menyaksikannya, berdoa dan shalatlah sampai terang kembali (gerhana tersebut selesai). HR Bukhary dan Muslim

  • Riwayat hadits bahwa Nabi s menunaikan shalat gerhana bulan (HR Ahmad dan Bukhary)                                       
  • Bahwa shalat gerhana bulan hukumnya sunnah seperti sunnah-sunnah nawafil tanpa ada tambahan ruku’ dan tidak ditunaikan secara berjamaah. (Mazhab Hanafi dan Imam Malik)

Imam Malik berpendapat, karena adanya masyaqqah (kesulitan) bila harus ditunaikan berjamaah di malam hari dan tidak ada hadits yg meriwayatkan bahwa Nabi s menunaikannya berjamaah; padahal gerhana bulan lebih sering terjadi dibanding gerhana matahari.

Dari dua pendapat ini, yang pertama lah yg lebih kuat karena ada perintahnya di dalam hadits, tanpa membedakan kusuf dan khusuf.

Waktu Pelaksanaannya

Waktu pelaksanaan shalat gerhana adalah sejak gerhana itu bermula sampai selesai, sebagaimana hadits Rasulullah s (فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ) “Apabila kalian menyaksikannya, berdoa dan shalatlah sampai terang kembali (gerhana tersebut selesai)”. Dan karena shalat ini disyariatkan sebagai harapan kepada Allah swt agar mengembalikan nikmatnya mendapat cahaya (matahari atau bulan).

Akhir Waktu Shalat Gerhana

  • Kusuf, dengan salah satu dari dua hal:

    1. Berakhirnya gerhana.
    2. Tenggelamnya matahari.                                                                                                                                 
  • Khusuf, dengan salah satu dari dua hal:

    1. Berakhirnya gerhana.
    2. Terbitnya matahari.

Catatan: shalat gerhana tetap ditunaikan walaupun di waktu-waktu terlarang. Ini adalah pandangan Mazhab Syafi’i.

Amalan Saat Terjadi Gerhana

  • Memperbanyak zikir, istighfar, takbir, sedekah dan bentuk-bentuk amal shalih lainnya. Dalam hadits yg diriwayatkan oleh A’isyah ra: (فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا) “Apabila kalian menyaksikannya, berdoalah kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekahlah sampai terang kembali (gerhana tersebut selesai)”. HR Bukhary
  • Menunaikan shalat gerhana berjamaah:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ (رواه البخاري ومسلم)

  • Mengajak-serta kaum muslimah:

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ أَنَّهَا قَالَتْ أَتَيْتُ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ يُصَلُّونَ وَإِذَا هِيَ قَائِمَةٌ تُصَلِّي (رواه البخاري)

Dari Asma’ binti Abi Bakr ra: “aku pernah mendatangi A’isyah, istri Nabi s saat gerhana bulan, ternyata masyarakat sedang menunaikan shalat gerhana begitu pula dengan dia (A’isyah)”. HR Bukhary

  • Seruan “ash-shalatu jami’ah”, tanpa azan dan iqamah.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا كَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُودِيَ إِنَّ الصَّلَاةَ جَامِعَةٌ (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin ‘Amr ra: “saat terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah s, diserukanlah “ash-shalatu jami’ah!”. (HR Bukhary)

  • Khutbah setelah shalat gerhana.

عن عائشة رضي الله عنها: ...ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا (رواه البخاري)

Dari A’isyah ra: “…kemudian beliaupun beranjak ketika matahari sudah selesai, lalu beliau berkhutbah; memuji Allah dan mengagungkanNya lalu bersabda: sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah, yang tidak mengalami gerhana oleh karena kematian atau kelahiran seseorang! Apabila kalian menyaksikannya, berdoa, shalat dan bersedekahlah kalian!”. (HR Bukhary)

Tatacara Shalat Gerhana

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ مَا فَعَلَ فِي الْأُولَى ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا ثُمَّ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا (رواه البخاري)

Dari A’isyah ra: “Terjadi gerhana matahari di zaman Rasulullah s maka beliaupun shalat bersama para sahabat; beliau berdiri dan memperpanjang (bacaan) saat berdiri, kemudian ruku dan beliau panjangkan ruku’ itu, lalu berdiri lagi dan beliau panjangkan berdirinya namun lebih pendek dari yang pertama, lalu ruku’ dan beliau panjangkan ruku’nya tapi lebih pendek dari yang pertama, kemudian sujud dan beliau panjangkan sujud…. Lalu beliau lakukan di rakaat kedua seperti yang beliau lakukan di rakaat pertama. Kemudian beliau beranjak saat gerhana sudah selesai, lalu beliau berkhutbah; memuji Allah dan mengagungkanNya lalu bersabda: sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah, yang tidak mengalami gerhana oleh karena kematian atau kelahiran seseorang! Apabila kalian menyaksikannya, berdoa, bertakbir, shalat dan bersedekahlah kalian!” Kemudian beliau bersabda: “Hai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada orang yang lebih cemburu daripada Allah saat budaknya berzina! Hai umat Muhammad, demi Allah, sungguh kalau kalian mengetahui apa yang kukrtahui, pasti kalian akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis!” . (HR Bukhary)

Ringkasan tentang tatacaranya:

  1. Takbir, doa istiftah, ta’awwudz, membaca al-Fatihah dan surah sepanjang surat al-Baqarah (memperpanjang bacaan).
  2. Ruku’ yang panjang.
  3. I’tidal.
  4. Kembali membaca al-Fatihah dan surah, tapi lebih pendek dari yang pertama.
  5. Ruku’ yang panjang tapi tidak sepanjang yang pertama.
  6. I’tidal.
  7. Sujud, duduk dan sujud lagi.
  8. Berdiri untuk melaksanakan rakaat yang kedua, bentuknya seperti rakaat pertama.

Catatan: shalat gerhana (matahari dan bulan) disunnahkan bagi imam menjahrkan suaranya, sebagaimana shalat-shalat sunnah lainnya yang ditunaikan berjamaah, seperti shalat ied dan istisqa’. Wallahu a’lam.

 

* Rujukan: Kitab Shahih Fiqh as-Sunnah wa Adillatuhu 1/432-439, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim dkk, al-Maktabah at-Taufiqiyyah, Kairo.

 

 

 

 

author
No Response

Leave a Reply