Menjadi Penonton Yang Baik

No comment 858 views

4884645408_e276a67364_b

Menjadi Penonton Yang Baik
@Catatan Drama PKS 2016

oleh Eko jun

Jelang milad ke-18, PKS menghadirkan drama di jagad politik Indonesia. Yakni ikhwal dipecatnya Fahri Hamzah, melalui putusan Sidang majelis Tahkim DPP PKS. Gayung pun bersambut ke ranah hukum. Apa pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini?

Pertama, Mensikapi Sengketa
Sengketa diantara manusia adalah hal yang sangat wajar dan manusiawi. Dikalangan sahabat sekalipun, terjadi sengketa yang berujung ke perang Jamal, Perang Shiffin dan peristiwa Tahkim. Padahal mereka disebut – sebut sebagai generasi terbaik dan dibina langsung oleh Rasulullah SAW. Jika mereka saja bisa berlaku demi

kian, apalagi kita yang kualitasnya jauh dibawahnya.

Pasca peristiwa itu, terjadi polarisasi antara Bani Umayyah dengan kaum ‘Alawi. Berujung saling caci dan laknat, dari obrolan biasa hingga ke mimbar jum’at. Adalah Khalifah Umar bin Abdul ‘Azis yang menghapus tradisi melaknat di mimbar jum’at. Dia menulis surat kepada para jajarannya (kalangan Bani Umayyah) untuk menghentikan kebiasaan tersebut, dengan sebuah ayat yang termaktub di Surat An Nahl ayat 90. Hingga sekarang, ayat ini masih sering dibaca oleh khatib diwaktu khutbah, khususnya dikalangan nahdliyin.

Pasca peristiwa pemecatan Fahri Hamzah oleh Majelis Tahkim DPP PKS, bisa jadi terjadi pula polarisasi baik di internal PKS maupun pihak eksternal. Ujungnya sudah bisa ditebak, berupa hembusan fitnah ghibah dan caci maki diantara kedua golongan. Ya akhi, jika dikau menghadapi peristiwa tersebut, ikutilah contoh yang telah digariskan oleh Khalifah Umar bin Abdul Azis.

Kedua, Mensikapi Gugatan
Gugatan adalah barang yang sangat lumrah, jangan ditabukan atau diharamkan. Layanilah gugatan dengan baik dan santun agar proses lahirnya keputusan bisa diuji prosesnya dan dinilai hasilnya. Agar semua yakin bahwa tidak ada pihak yang dizhalimi dan/atau berbuat makar. Karena secara prinsip, kesalahan memang bisa terjadi kepada siapa saja, baik individu maupun kelompok. Baik berupa makar maupun permufakatan jahat.

Kita semua tahu bahwa di akherat kelak, orang kafir akan dimasukkan ke neraka. Jika demikian halnya, apakah orang kafir juga tetap akan dihisab? Kami memilih pendapat bahwa orang kafir juga tetap akan dihisab. Meskipun apapun hasilnya, tetap orang kafir tersebut juga akan dilempar ke neraka.

Mengapa orang kafir tetap dihisab? Yakni agar sempurna keadilan Allah ditegakkan. Agar mereka tahu bahwa Allah tidak berbuat zhalim kepada siapapun. Agar mereka sadar bahwa penyebab dimasukkan ke neraka adalah karena ulah perbuatan mereka sendiri, bukan karena faktor like and dislike.

Allah ta’ala Yang Maha Adil tetap menghisab dan memberi ruang untuk membela diri kepada manusia, meskipun dia kafir. Maka sebenarnya tidak layak jika manusia dan/atau kumpulan manusia yang jauh dari sifat adil menolak digugat dan tidak memberi ruang kepada pihak lain untuk membela diri. Terlebih jika dia adalah saudara seperjuangannya sendiri.

Ketiga, Mensikapi Konflik
Secara nyata, konflik akan menimbulkan dua kubu yang berseberangan. Kita yang berdiri diluar pusaran, memiliki dua opsi. Yakni menjadi pendukung dari salah satunya atau menjadi penonton. Terlepas dari apapun yang posisi yang akan diambil, jangan sampai kita kehilangan nurani dan akal sehat. Sebaliknya, banyak – banyaklah mengambil manfaat dan berikan peninggalan yang baik untuk generasi setelah kita.

Ali bin Abu Thalib ra adalah orang faqih. Dia terlibat dalam pusaran konflik, baik terhadap Mu’awiyah, Syiah maupun Khawarij. Meski demikian, dia tetap objektif dalam menilai. Bahkan, beliau mampu memberikan perbendaharaan ilmu yang luas kepada generasi sesudahnya, yakni hukum dan etika perang sesama muslim. Sebuah disiplin keilmuan yang bahkan tidak dikenal oleh generasi shahabat sebelumnya.

Abdullah bin Umar ra adalah seorang faqih. Saat peristiwa perang Jamal dan Shiffin, dia memilih berdiam diri untuk menjadi penonton. Setelah peristiwa tahkim, para penguasa Bani Umayyah memberlakukan caci maki, sumpah serapah kepada Ali bin Abu Thalib dan ahli baitnya. Abdullah bin Umar bersama dengan shahabat – shabat lain memberikan penjelasan tentang ikhwal keutamaan yang dimiliki oleh Ali bin Abu Thalib ra. Dan akhirnya, Ali bin Abu Thalib ra menjadi shahabat yang paling bayang diriwayatkan keutamaannya dibandingkan dengan shahabat yang lainnya.

Khatimah
Seorang muslim sering diibaratkan sebagai pohon yang berbuah. Kita menanti kapan buahnya jatuh, untuk dimakan tentunya. Entah terjatuh sendiri karena buahnya masak, entah karena dipukul dengan bambu maupun dilempar dengan batu.

Seorang yang berilmu, terus menerus mengeluarkan hikmah. Baik dalam suasana hati yang lapang maupun sumpek. Baik dalam karena keinginan sendiri, menjawab pertanyaan dan bahkan majelis debat.

Jika antum ingin menjadi pemain dan masuk pusaran, bermainlah dengan baik. Agar kami sebagai penonton bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Bukankah banyak juga kitab yang ditulis karena perdebatan yang santun dikalangan ulama?

Jika antum ingin menjadi penonton, jadilah penonton yang baik. Jangan perkeruh suasana dengan sesuatu yang tidak kita ketahui hakekatnya. Jangan kotori lisan dan hati kepada mereka yang begitu besar jasanya kepada kita. Ambil, catat dan renungkan setiap pelajaran agar bisa kita wariskan kepada generasi selanjutnya.

Wallohu a’lam bi showab.

 

No Response

Leave a Reply