Membuang Pemikiran Awam Kader Dakwah

 
250345_10150202389742838_817467837_7024623_5214580_n
 
Membuang Pemikiran Awam Kader Dakwah

Renungan untuk Kader Dakwah

Ikhwati Fillah......

Sebagian kader dakwah masih banyak yang memiliki pemikiran seperti orang awam. Mereka malas datang ke halaqah pekanan rutin dengan alasan: nggak dapat apa-apa, ngomongin politik melulu, bisanya cuma bicara bisnis, nggak ada ruhnya, merasa murabbi/naqib tak bisa memberikan ilmu dan berbagai alasan lainnya.

Ikhwati Fillah...

Itulah cara berpikir orang awam. Mereka mau datang ke majelis taklim kalau ustadznya bagus. Jika tidak, dia absent. Bahkan, trend jamaah sekarang turut ditentukan oleh lucu dan tidaknya sang ustadz. Kalau ustadznya lucu, bisa menghibur, makin banyak peminatnya, kian tinggi ratingnya.

Padahal, sebagai kader dakwah, gaya berpikir kita seharusnya tidak lagi seperti orang awam yang mau datang kalau ustadznya bagus atau kalau ustadznya lucu. Justru kader dakwah itu mesti berpikir bagaimana bisa memberi bukan menerima.

Jika merasa bahwa halaqahnya tidak sehat, ia justru harus menjadi orang pertama yang berusaha memperbaikinya, bukan meninggalkannya. Jika ia merasa, murabbi/naqibnya tidak memberikan apa pun lantaran bukan berbackground syariah, ia harus mendampinginya, bukan mencelanya. Jika mengetahui murabbi/naqibnya sibuk, justru ia harus siap menjadi 'pengganti', bukan malah senang karena ada alasan bisa libur dengan menyalahkan murabbi. Kalau murabbinya sering datang terlambat, justru ia harus datang lebih dulu, bukan makin datang terlambat dengan dalih: ah...ntar juga biasanya ustadznya juga telat. Santai aja berangkat.

Ikhwati Fillah...

Begitu mudah jika kita ingin lepas dari jamaah ini. Tapi ke mana kita akan lari? Mau ke jamaah lain? Atau kita sudah siap hidup menyendiri? Siapkah kita diterkam serigala lapar yang terus mengintai kita kapan pun?

Semoga Allah menjaga kita dan dakwah ini. Amin. Selamat beraktivitas

copas
No Response

Leave a Reply