Salah Kaprah Citra Liqo Atau Pembinaan Agama Ala PKS

halaqahLiqo (pembinaan agama) ala PKS sering dianggap kaderisasi partai terselubung. Bahkan sampai menuduh kegiatan liqo adalah upaya radikalisasi. Padahal nggak juga tuh.

Adakah orangtua yang tidak sayang dengan anaknya? Saya pikir hampir tidak ada. Saya sendiri berpikir bahwa anak adalah karunia terindah yang pernah saya miliki. Bukan saja harus dirawat, melainkan juga dijaga kehidupannya.

Saya ingat, dulu waktu saya beranjak remaja. Susah sekali saya mendapat izin untuk main di luar rumah. Terpaksa harus ngumpet-ngumpet atau berbohong dulu, bilang mau ngaji padahal mau nonton konser. Bilang mau beli buku ke gramedia, bener sih ke gramedia tapi bareng pacar dan nggak beli buku. Hehe.

Tetapi dengan alasan ingin ngaji, lampu hijau untuk keluar rumah selalu saya dapat. Tanpa ada kecurigaan dan pertanyaan lanjutan setelah pulang.

Nah, kalau sekarang mungkin beda lagi. Beberapa kali saya mendengar orangtua, terutama ibu-ibu yang malah khawatir kalau anaknya pamit keluar untuk ngaji. Alasannya takut anaknya ikutan pengajian aliran sesat. Khawatir nanti anaknya jadi nggak sayang lagi sama keluarga atau yang ekstem sampai kekhawatiran ikut-ikutan jadi pengantin bom bunuh diri.

Salah satu pengajian yang fenomenal di masyarakat namun tertuduh sesat oleh sebagian orang adalah tarbiyah. Frase tarbiyah dikenal masyarakat luas karena ulah kader partai mini yang jenggotnya tipis dan nggak lebih dari 8 lembar. Mereka merekrut calon anggota partai dan menanamkan visi, misi, dan pergerakannya melalui konsep tarbiyah.

Apa itu tarbiyah? Dalam kamus bahasa arab, tarbiyah sedikitnya memiliki tiga asal kata, yaitu robaa-yarbuu yang berarti bertambah dan berkembang. Robiya-yarba yang berarti tumbuh dan terbina. Dan robba-yarubbu yang berarti meng-ishlah, mengurus, dan memberi perhatian.

Konsep tarbiyah para kader partai “Palestina Kita Sayang” yang setiap pemilu selalu diprediksi tidak akan lulus parliamentary threshold ini biasa dikenal dengan sebutan Liqo atau Holaqoh.

Sayangnya banyak orang yang tidak bisa membedakan antara tarbiyah ala kader “Partai Kebanyakan Slogan” dengan tarbiyah kelompok pengajian lainnya. Seringkali orang mengira bahwa semua yang tarbiyah = PKS = HTI = Salafi = Wahabi = Intoleran = Calon ISIS. Duh.

Padahal jika sesekali mau masuk grup-grup Facebook mereka, pembaca akan tahu bahwa yang namanya HTI sering ribut dengan PKS. Yang Salafi sering menyindir HTI. Salafi dan PKS, kerap maen tungging, eh, tuding-tudingan. Artinya ada hal-hal prinsipil yang membuat mereka tidak bisa disamakan.

HTI mengharamkan demokrasi, PKS ikut hiruk pikuk demokrasi, sedangkan Salafi? Mungkin hanya Tuhan yang tahu di mana mereka berdiri.

Nah, sebagai orang yang sering ikut liqo-an “Partai Kesayangan Semua” itu saya jadi ingin sekadar menerangkan tentang hakekat liqo itu sendiri. Tentu menurut saya, nggak tahu versi Tetran muslim atau Sandiaga.

Liqo atau sering juga disebut Holaqoh adalah Pengajian kelompok kecil berjumlah dari 3 sampai dengan 12 orang. Dipimpin oleh seorang guru yang disebut Murobbi/Murobbiah.

Pengelompokan biasanya berdasarkan usia, domisili, pemahaman, profesi, dll. Akhwat (perempuan) sama akhwat, ikhwan (laki-laki) ya liqo sama ikhwan. Nggak boleh ada yang coba-coba minta digabungin, kalau minta dijodohin (khusus jomblo), nah itu baru boleh.

Liqo diadakan satu pekan sekali, intensitas sekitar 2 sampai 5 jam per pertemuan.

Beberapa bentuk kegiatan liqo, di antaranya mengaji dan mengkaji (tilawah dan tadabbur) Al-Quran, setoran/muroja’ah hapalan Al-Quran dan Hadis, kultum, bedah buku Islam, qodhoya, dan rawa’i (semacam curhat dan saling bertukar kabar baik dan musibah dari para anggota liqo) lalu dilanjutkan penyampaian materi dakwah dari murobbi/murobbiah.

Materi yang disampaikan berkisar tentang tauhid, fikih, akhlakul karimah, muamalah, terkadang diselingi pembahasan tentang fenomena politik, sosial, budaya, baik dari dalam negeri maupun luar angkasa.

Pada bagian ini yang seru adalah waktu sesi tanya jawab, diskusi, dan pembahasan. Kadang kala terjadi perdebatan, tapi nggak sampai cakar-cakaran kok—apalagi guling-gulingaan. Flat aja. Namanya juga kader “Partai Kalem Sekali”. Malu dunk kalau ketahuan jambak-jambakan.

Kadang-kadang agar tidak jenuh, agenda liqo pekanan bisa diganti dengan kegiatan riyadhoh (berolahraga) bersama, rihlah (jalan2) bertafakur alam bersama, wisata kuliner, belajar masak, atau sekadar sharing ilmu dan keahlian yang dikuasai anggota liqo sesuai profesinya.

Misalnya kayak saya nih yang dikenal jago makan, saya ajarin deh temen-temen cara bisa makan banyak tapi nggak kenyang-kenyang. Serta tips dan trik tidak pernah menolak ajakan makan meski kamu sudah makan. Eh.

Liqo dibuka dengan basmallah dan pembacan tilawah satu per satu anggotanya. Sekalian dibenerin bacaannya biar sesuai makhroj dan tajwid hingga ditutup dengan berdoa. Biasanya spesifik dan bisa request nih para anggotanya mau didoain apa.

Misal yang sakit biar cepat sembuh, yang banyak utang dan nggak pernah bayar uang kas segera dimampukan dan yang jomblo biar cepat nikah atau setidaknya berani melangkah (berani ta’aruf maksudnya). Abis itu lanjut doa penutup majelis dan rabhitah. Nggak lupa salam-salaman biar berguguran lemak gorengan, eh, dosa sambil berjanji pekan depan insya Allah jumpa lagi. Cakep kan?

Jumlah anggota liqo-an dibatasi, agar penyerapan materi-materi dakwah dan tali kekeluargaan bisa terbentuk antar anggotanya. Karena setiap anggota liqo ini dididik untuk menjadi murobbi/murobbiah generasi di bawahnya dan masyarakat awam di sekitarnya. Intinya, kamu kudu praktekin ilmu-ilmu yang didapat dari liqo-an. Kalau nggak? Tidur aja tidur, ngapain capek-capek liqo?

Terus mutaba’ah (ibadah) harian peserta liqo ini juga dipantau melalui form yang diisi setiap pekan. Jadi bakal ketahuan deh kalau lagi males-malesan beribadah. Ada raport-an juga tiap tahun. Dan saya malu untuk cerita beberapa nilai merah yang nggak berubah-ubah sejak dahulu kala. Haha.

Enaknya kita bisa dapat limpahan semangat dan energi positif dari yang lagi rajin. Namanya iman kan emang naik turun, ademmm rasanya kalau punya teman yang saling menasehati dalam kebaikan. Meski kadang ada yang ngomongnya lebay dan nyebelin juga sih, tapi marilah anggap itu sebagai ujian kesabaran punya saudara-saudara yang nggak terikat pertalian darah sama kita, namun baiknya, kadang lebih dari saudara kandung. Camkan itu! Eh, kok jadi galak? Punten.

Metode liqo/halaqoh inilah yang diterapkan Rasulullah saat mendidik para Kulafur-Rasyidin yang akhirnya menjadi sahabat setia dan penerus dakwah Rasulullah. Kebayang kan persaudaraan mereka kayak gimana? Militannya dalam dakwah dan bela agama kayak apa?

Duh, jangan harap kita yang pada sudah liqo sudah mampu meniru dan menyamai mereka. Masih jauh. Masih kudu harus wajib belajar 9 tahun lebih dari teladan yang mereka berikan.

Liqo jaman now juga sudah dilaksanakan secara terbuka, nggak kayak jaman orba yang semuanya harus ngumpet-ngumpet. Ibu-Ibu yang khawatir anaknya ikut liqo dan dicekokin materi macem-macem, boleh sekali-kali buka buku catatan liqo anaknya (liqo wajib bawa buku catatan ya) dan fotokopian materi liqo dari murobbi.

Cobalah baca sendiri, Bu. Lihat dan pelajari, adakah yang Ibu rasa pelajaran yang menyesatkan? Jika ada, silakan hajar, eh maksudnya silakan laporkan ke pihak-pihak yang berwenang. Bisa pihak kampus kalau liqonya di kampus, tetua kampung, RT atau RW, tokoh masyarakat, Banser, bahkan kepolisian.

Atau Ibu hanya khawatir anaknya ikutan jadi kader “Partai Kita Semua”? Saya bilangin, Bu. Orang yang ikut liqo, belum tentu menjadi kader partai. Jadi begini, ikut liqo memang merupakan syarat mutlak untuk seseorang yang ingin jadi kader partai. Sedangkan untuk ikut liqo, orang tidak perlu menjadi kader partai.

Jadi memang lebih baik kalau ada yang datang terus bilang, “Mbak, boleh nggak saya ikutan liqo, tapi nggak ikutan partai-partaian?”

Pasti dijawab; “Boleh.” Lagian memang banyak kok yang seperti ini.

Tapi kalau ada yang bilang, “Mbak, boleh nggak saya ikutan partai tapi nggak ikut liqo?”

Kebanyakan kita jawab dengan senyuman sambil dalam hati bilang, “Ke laut aja lu.”

Lewat liqo, partai menanamkan tentang visi misi menuju masyarakat madani, adil, dan sejahtera seperti yang dicita-citakan. Nah, kalau nggak mau liqo nanti nyasar sediri. Punya visi misi sendiri. Lama-lama bikin arah baru sendiri. Bikin rempong dong?

Lantas apa bedanya liqo-an ala PKS dengan yang lainnya?

Kalau dari segi penampilan memang susah, karena rata-rata sama saja. Jilbab lebar, beberapa cadaran, pakai kaos kaki, gamis atau tunik yang dombrang sudah tidak lagi menjadi ciri khas kelompok tertentu.

Mungkin yang paling bisa membedakan bisa dilihat adalah perilaku. Kalau Ibu-Ibu tersayang tiba-tiba melihat anaknya rutin ngaji sepekan sekali, terus pinter, dan rajin ngomong bahasa arab meski sekadar akhi, ukhti, ana, antum, syukron, afwan, syafakallah, lalu bertakbir!

Ditambah dia mau tebar pesona, eh, aktif di masyarakat dan ikut-ikut kegiatan seperti Yankes, penyuluhan, kerja bakti, dan lain-lain. Lalu suka sekali menyebut nama “Partai Kesayangan Semua” dan punya salah satu atributnya meski cuma pin di tas sekolah, bisa dipastikan bahwa dia sudah termakan virus tarbiyah ala partai tersebut.

Segera periksa tasnya, Bu, siapa tahu ada copy-an bayan atau taklimat yang menjelaskan teknis membaur untuk menjadi manusia bermanfaat bagi cemmuah. Hahaha.

Tapi jika anak Ibu tiba-tiba menjauh dari masyarakat, lewat tanpa permisi, dan suka membid’ahkan tradisi di masyarakat. Mohon maaf, bukan begitu karakter yang lahir dari liqo-an ini.

Mungkin anak Ibu ikut tarbiyah di tempat lain atau memang lagi sensi karena kamarnya dekat toa masjid yang sering dipakai nge-geber kenceng suara azan, pengajian, orang hajatan, atau sekadar pengumuman kerja bakti dan laporan pemberantasan nyamuk demam berdarah mingguan.

Sumber

https://mojok.co/har/esai/salah-kaprah-citra-liqo-atau-pembinaan-agama-ala-pks/

author
No Response

Leave a Reply