Kopi Cinta untuk Pengungsi

No comment 234 views

WhatsApp Image 2020-01-03 at 20.54.08Jadi relawan selalu meninggalkan kesan tersendiri buat saya. Alih alih merasa bangga karena telah membantu justru yg saya rasakan adalah perasaan malu yg dalam. Karena disetiap episode saya selalu tergugu akan pelajaran2 hidup dari orang orang disekeliling bencana, baik korban maupun sesama relawan 

Cerita istimewa kali ini membawa pelajaran bahwa keindahan bukan tentang seberapa banyak kita miliki dan berikan tapi seberapa besar kasih sayang di dalamnya.

Beliau yang ada di foto biasa kami panggil pak Mul. Sosok sepuh yg gesit di hari pertama penyaluran bantuan menembus air yg masih tinggi. Faktor usia juga yang kemudian membuat kami mengingatkan agar beliau tidak memforsir tenaga karena kami khawatir pada kesehatannya.

Dan pagi ini beliau membuat kejutan buat saya. Beliau tiba pagi berbarengan dengan saya, pak Mul mengayuh sepeda dari rumah beliau yg berjarak 3 km dari lokasi banjir dengan membawa air panas, termos es batu dan air minum lengkap dengan kopi, susu, minuman sereal berikut gelas dan sendok.

Saat saya bergegas berkoordinasi dengan korlap hari ini beliau memanggil anak2 kecil yg ada di posko untuk kemudian dibuatkan susu dan coklat hangat. 
Fragmen sederhana namun indah dan manis.
Indah karena yang beliau bawa hari ini adalah modal beliau yang sehari hari berjualan kopi dengan sepeda kesayangannya di depan RS Sari Asih Ar Rahmah.

Jadi yang beliau berikan buat kami anak2 beliau adalah modal mencari nafkah.
Indah dan manis sekali pelajaran dari sosok sepuh murah senyum dan tak pernah meninggalkan shaum sunnah senin kamis ini.

Pak Mul.. saya tahu bapak tidak akan pernah membaca cerita ini karena bapak tak punya smart phone apalagi sosial media. Tapi ijinkan saya membagikan indah dan hangatnya kopi yang saya teguk hari ini dari ketulusan bapak.
Pak Mul terima kasih yaa atas pelajaran yang bapak tunjukan dalam senyum.

Keindahan bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki dan berikan namun tentang ketulusan dari lubuk hati paling dalam

 

Risris Kartaatmadja

author
No Response

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.