Gagal Paham Pengasuhan Anak Vs Dzurriyyatan Thoyyibah

WhatsApp Image 2020-06-29 at 12.59.51Oleh: Triatno Yudho Prabowo, M.Psi, Psikolog
(Penulis Buku, Konsultan Keluarga & Pasangan)

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2010 merilis data bahwa 62,7% siswi SMP sudah tidak perawan. Pada tahun 2015, Badan Narkotika Nasional (BNN) menyampaikan data sebanyak 22% pengguna narkoba adalah dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Bagaimana kondisi saat ini? Besar kemungkinan kondisi sekarang lebih mengkhawatirkan, karena kecenderungannya terus meningkat.

Ayah Bunda Hebat yang dirahmati Allah SWT, Setiap keluarga tentu mengidamkan kebahagiaan, yang di dalamnya terdapat sakinah mawaddah warrahmah. Dan kebahagian tersebut salah satunya tercermin dari hadirnya tanggungjawab pengasuhan yang baik dari orangtua kepada anak-anaknya. Kehadiran anak di dalam keluarga selalu membawa harapan atas terwujudnya dzurriyyatan thoyyibah sebagaimana doa Nabi Zakariya AS yang diabadikan oleh Allah SWT dalam Al Quran : “Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa" (QS 3 Ali Imran : 38). 

Saya menyebut dzurriyyatan thoyyibah di dalam buku saya dengan istilah generasi atau anak hebat, yang ciri-cirinya saya ambil dari apa yang pernah disampaikan oleh seorang 'Ulama Hasan Al Bana sebagai muwashofat (karakteristik) kepribadian muslim mulai dari memiliki akidah yang lurus, ibadah yang benar, akhlak mulia yang kokoh, mandiri, berwawasan luas, berbadan sehat dan kuat, bersungguh-sungguh atas dirinya, teratur atas segala urusan, menjaga waktu, dan bermanfaat bagi orang lain.

Namun jika melihat data yang tersaji di atas, fenomena yang ada bukan terwujudnya dzurriyyatan thoyyiban. Sebaliknya fenomena mengarah pada mewujudnya dzurriyyatan dhi’afan (generasi lemah) yang telah diingatkan oleh Allah SWT sejak 15 abad lalu melalui firman-Nya dalam surat An Nisa ayat 9 : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”(QS. An Nisa : 9). 

Ayah Bunda Hebat yang dirahmati Allah SWT, Munculnya “jurang” antara harapan akan mewujudnya dzurriyyatan thoyyibah dengan fenomena kemunculan  dzurriyyatan dhi’afan salah satunya adalah disebabkan oleh gagal pahamnya para orang tua terhadap konsep dasar parenting atau pengasuhan anak.

Dalam banyak seminar dan pelatihan yang saya adakan, tidak jarang terungkap sebagian orang tua yang lalai terhadap pengasuhan anak. Lalainya pengasuhan orang tua terhadap anak mereka, umumnya terjadi ketika para orang tua merasa sudah “menitipkan tanggung jawab” pengasuhan anaknya kepada lembaga pendidikan seperti pesantren dan sekolah atau bahkan pengasuh anak. 

Maka dengan lalainya orang tua terhadap pengasuhan anak, mulailah muncul penyebab-penyebab yang memicu fenomena dzurriyyatan dhi’afan tadi. Seperti orang tua yang “gagap” dalam berkomunikasi dengan anaknya sendiri, sehingga membuat anak tidak nyaman melakukan komunikasi justru kepada orang tuanya sendiri.

Padahal konsep dasar parenting atau pengasuhan anak ini sudah digariskan oleh Allah SWT di dalam Al Quran surat AT Tahrim ayat 6 yang bahkan sebagian orang tua sudah menghafalnya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. Selain itu Rasulullah Muhammad SAW juga sesungguhnya telah berpesan mengenai hal ini melalui sabdanya : “Setiap anak yang dilahirkan adalah fitrah (suci). Kedua orang tua yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Bukhari Muslim). 

Maka Ayah Bunda Hebat yang dirahmati Allah SWT, Keinginan atas terwujudnya dzurriyyatan thoyyibah -tidak bisa tidak- harus dimulai dengan memperbaiki kelalaian orang tua dalam pengasuhan anak. Bahwa bersamaan dengan amanah yang telah Allah SWT berikan kepada orang tua, maka melekatlah tanggung jawab utama pengasuhan anak pada orang tua, bukan pada pihak lain. Sekiranya hal ini bisa dipahami kembali dengan baik oleh para orang tua, kemunculan dzurriyyatan thoyyibah hanya menunggu waktu, Insya Allah.

*Pernah dimuat di majalah Relung Tarbiyah dengan judul "Jangan Gagap Komunikasi dengan Anak Sendiri"

#BPKK Kota Tangerang

author
No Response

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.