Percikan Cinta dari Kader PKS

No comment 10 views

WhatsApp Image 2021-02-23 at 08.18.15

"Bu, sakiit," lirih suara Bulan, anak kedua Ipah. Bocah kelas satu SD itu memang sudah cukup lama menderita sakit pada paru-parunya. Bukan tak kasihan pada anak, tapi upah hasil kerja Ipah sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah, hanya cukup untuk bayar kontrakan dan tagihan listrik. Untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah anaknya, ia kadang berjualan makanan keliling. Itu pun hanya bisa dilakukannya jika tidak kelelahan setelah bekerja seharian. 

Bima, suami Ipah, hanya bekerja sebagai kenek metro mini. Itu pun sehari kerja, tiga hari libur karena harus bergantian dengan kenek cabutan lainnya. Saat pulang, seringkali ia hanya membawa uang tiga puluh sampai lima puluh ribu rupiah saja. Sejumlah itu sangat jauh panggang dari api untuk memenuhi kebutuhan empat hari. 

"Bulan tunggu di sini, ya? Jaga Dek Tari. Dia lagi bobo. Ibu cari uang dulu buat beli obat." Ipah menahan air matanya agar tak jatuh.

Gadis kecil itu mengangguk lemah. Dipeluknya Mentari, adik kecil yang masih berusia lima tahun. Mereka kerap hanya tinggal berdua di rumah kontrakan yang sempit, saat ibu dan ayahnya bekerja. Bintang, anak sulung Ipah dan Priyo, sengaja dititipkan pada neneknya, di Cirebon. Mereka tak sanggup untuk membiayai sekolahnya di Tangerang.

Ipah melangkah perlahan meninggalkan rumah. Pikirannya kalut, tak tahu hendak kemana ia mencari uang pinjaman untuk mengobati sang buah hati. Hutang di Bu Sari sudah menumpuk. Terpaksa ia harus rela upahnya dipotong tiga puluh persen untuk membayar pinjaman pada majikannya itu.

Di Bu Windi pun sama, hutangnya sudah hampir satu juta. Bedanya, ibu muda itu tak memotong gaji Ipah. Ia sendiri yang berinisiatif untuk membayar seratus ribu setiap menerima upah di akhir bulan. 

Setelah berjalan hampir lima ratus meter, Ipah teringat sosok perempuan berkerudung panjang yang baru saja menempati rumah di ujung jalan. Bu Hana, majikan barunya. Tutur katanya sangat lembut. Sudah satu minggu Ipah bekerja di sana. 

Istri dari Ustadz Nana itu pasti mau meminjamkan uang untuk berobat Bulan, tapi apakah Ipah punya keberanian untuk bicara? Baru seminggu bekerja, kok sudah mengajukan pinjaman. Malu rasaya, tapi ia tak punya pilihan. Ipah tak tega melihat Bulan semakin tersiksa. 

Bayangan wajah bulan yang merintih, membuat Ipah menguatkan tekad dan memberanikan diri. Perlahan diketuknya pintu rumah bercat biru itu. Seorang perempuan yang tampak berusia lebih muda dari Ipah, membuka pintu dan mempersilakan tamunya untuk masuk. 

Setelah berbasa basi sebentar, Ipah menyampaikan maksud hatinya. Wanita muda yang dipanggil Bu Hana itu mengangguk, lalu mengambilkan dua lembar uang berwarna merah. 

"Seratus aja, Bu. Segitu juga cukup kok, buat beli obatnya Bulan aja." Ipah hendak mengembalikan selembar uang berwarna merah itu pada Hana. 

Perempuan dengan gamis biru dan kerudung tosca itu menolak. 

"Yang seratus buat beli makanan aja. Dari saya untuk anak-anak Bi Ipah."

"Ya Allah ... makasih banyak, Bu. Semoga Bu Hana dan Ustadz diberikan banyak rejeki dari Allah."

"Aamiin. Makasih, Bi."

"Saya pamit ya, Bu."

Ipah baru hendak bangkit saat Hana menahan tangannya. Ia pun duduk kembali.

"Bi Ipah besok saya antar ke tempat pengobatann gratis, ya? Biar Bulan dapat perawatan rutin di sana."

"Beneran gratis, Bu?" 

"Bener, dong. Masa saya bohong?"

Ipah tersenyum lega. Kristal bening pun lolos dari matanya.

Keesokan harinya, Ipah dan Bulan diantar oleh Hana ke tempat pengobatan gratis. Di sana, selain diperiksa, Bulan juga mendapatkan obat secara rutin setiap bulannya. Saat pulang, mereka masih diberi bekal sekotak besar susu bubuk, dan dua kilogram telur, untuk meningkatkan gizi Bulan yang tubuhnya sudah sangat kurus. 

"Ya Allah, Bu. Makasih banyak udah bantuin saya. Sampai harus ninggalin Dek Raihan yang masih bayi."

"Nggak apa, Bi. Raihan aman di rumah sama ayahnya."

Ipah sama sekali tak menyangka, orang yang baru dikenalnya mau membantu, bahkan sampai berkorban waktunya untuk keluarga. 

Sejak itu sebenarnya Ipah tak ingin merepotkan Hana dan Ustadz Nana. Namun, satu tahun kemudian, Ipah kembali menceritakan masalahnya pada keluarga kecil itu. 

"Bintang udah mau lulus SD, Bu, tapi saya bingung. Nggak tahu mau sekolahin di mana. Kalau tetap di Cirebon, kasihan ibu saya yang udah tua banget. Badannya udah ringkih kalau masih harus ngawasin anak abege kayak Bintang."

"Sebentar ya, Bi. Saya telpon temen dulu."

Ipah mengangguk. Dilihatnya Hana sibuk menelepon ke beberapa orang. 

"Tolong banget, Pak. Ini tetangga saya sangat membutuhkan bantuan untuk sekolah anaknya. Saya khawatir kalau anak ini sampai putus sekolah."

Hana terdiam cukup lama. Tampaknya ia sedang mendengarkan orang yang berbicara di ujung telepon. 

"Baik, Pak. Akan saya usahakan. Terima kasih banyak. Assalamualaikum."

Rupanya itu adalah orang terakhir yang dihubungi oleh Hana. Perempuan itu memasukkan ponselnya ke dalam kantong gamis yang ia kenakan. 

"Alhamdulillah. Bi Ipah bisa nggak malam ini jemput Bintang? Ada SMP gratis, tapi pendaftarannya sudah ditutup. Barusan saya mohon langsung ke kepala sekolahnya, alhamdulillah bisa. Bintang dikasih kesempatan tes terakhir, besok pagi jam delapan. Gimana?"

"Ya Allah, Alhamdulillah. Bisa, Bu. Saya jemput sekarang. Tengah malem nanti kayaknya udah bisa sampai sini lagi. Tapi ...."

"Kenapa, Bi?" Hana mengernyitkan dahi. Sesaat kemudian ia menyadari sesuatu. Perempuan itu berjalan ke kamarnya, lalu kembali ke hadapan Ipah sambil membawa amplop putih. 

"Ini buat ongkos Bi Ipah pulang pergi bareng Bintang. Semoga cukup."

Ipah terisak. Diraihnya tangan wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun itu. Tak menyangka Allah mengirimkan manusia berhati malaikat seperti Bu Hana. 

"Ih, apaan sih, Bi. Nggak usah cium tangan segala. Kayak di pengajian aja." Hana menarik tangannya yang hendak dicium Ipah. 

"Kan, Bu Hana juga ustadzah. Istri Ustadz Nana." Ipah tersenyum.

"Istri ustadz nggak berarti dia ustadzah, Bi. Udah sana, berangkat. Nanti telat. Besok pagi saya anter ke tempat tesnya."

Ipah kembali ke rumah dengan wajah cerah. Ia langsung berkemas menjemput Bintang, anak sulungnya. Setelah mewanti-wanti Priyo agar menjaga Bulan dan Mentari, Ipah berpamitan. 

Tengah malam, Ipah sudah kembali ke kontrakannya dengan membawa Bintang. Keesokan harinya mereka diantar Hana ke tempat tes masuk SMP gratis. Kali ini mereka naik angkot, karena Hana tidak mungkin mengendarai motor dengan Ipah yang duduk di belakangnya bersama Bintang. Murid kelas enam SD itu berbadan tinggi besar. 

Semua usaha mereka membuahkan hasil. Bintang diterima bersekolah di SMP gratis setelah tes tulis dan wawancara. Tak hanya itu, sebelumnya pihak sekolah juga melakukan survey untuk melihat keadaan tempat tinggal dan kondisi ekonomi Ipah. 

Setelah urusan sekolah Bintang selesai, Hana mengajak Ipah untuk mengikuti pembinaan usaha kecil dari sebuah koperasi syariah. Dari sana ia mendapatkan bantuan modal untuk membuka usaha. 

Beberapa tahun berikutnya, Bulan dan Mentari juga bersekolah di SMP gratis tersebut. Kehidupan ekonomi mereka memang belum terlalu banyak berubah. Namun, Ipah sangat terbantu berkat pertolongan Hana dan suaminya. Keduanya adalah kader PKS. 

Sejak mengenal pasangan muda itu, setiap pemilu atau pilkada, Ipah selalu memilih PKS atau orang yang dicalonkan oleh PKS. 

Kini, Bintang dan Bulan sudah bekerja, sementara Mentari melanjutkan pendidikannya di pesantren. Ipah memilih pulang ke Cirebon bersama sang suami. Ia ingin merawat ibunya yang sudah mulai sering sakit. 

Di setiap salatnya, Ipah tak pernah lupa menyelipkan doa untuk kader PKS yang telah sangat membantu Hana dan keluarganya. 

*
Tangerang, 22 Februari 2021

Judul: Percikan Cinta dari Kader PKS
Penulis: Nurhayati Soetardjo
(Berdasarkan kisah nyata)

author
No Response

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.