Semua berawal dari selangkah, kemudian dua tiga sampai ribuan langkah aku memberi jejak pada tanah yang ku injak. Hingga pada satu saat mencapai titik di mana aku harus berhenti sejenak. Menyeruput perbekalan tersisa. Sembari menikmati alam yang ada. Sebentar saja aku pejamkan mata membayangkan betapa indahnya hasil nanti jika aku teruskan perjalanan panjang ini.
"Wahai orang-orang yang beriman! Maukah Aku tunjukkan sesuatu perniagaan yang boleh menyelamatkan kamu dari azab seksa yang tidak terperi sakitnya?
yaitu, kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta kamu berjuang membela dan menegakkan agama Allah dengan harta benda dan diri kamu; yang demikian itulah yang lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui." (As-Saff ayat 10-12)
Tetap terus melangkah karena aku tak sendiri, banyak pendaki yang menemani, Menghela nafas, sesekali terasa sesak di dada. Jantung mulai berdetak cepat. Keringat pun mengucur deras. Langkah semakin berat dan lamban. Rasanya ingin ku berhenti, sudahi saja perjalanan ini. Namun, puncakNya selalu menghantui. Ingin ku tepis, sudahlah untuk apa aku berlelah masih banyak cara untuk mendapat yang indah. Tapi, aku malu. Malu dengan mereka pendaki lainnya. Yang tak terbatas usia terus memberi jejak. Yang meski lelah terus mantap bertekad untuk berpijak di puncak.
Tak jarang mereka mengulurkan tangan memberi bantuan atau sekedar dukungan. Memberi keyakinan bahwa aku bisa bisa bisa seperti mereka-karena lelahnya kita,bersama. Karena berjuangnya kita,bersama. Karena tujuan kitapun sama.
Rasulullah saw bersabda, “Seorang muslim dengan muslim lainnya, bagaikan bangunan yang saling mengikat dan menguatkan satu sama lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Harus ku sadari bahwa aku harus mandiri karena tak semua teman dapat menemani hingga puncakNya. Berguguran di tengah perjalanan adalah sesuatu yang mungkin terjadi. Kurang lurusnya niat awalan, ketidaksamaan kesiapan, jumlah kecukupan perbekalan yang membuat teman gandengku bisa saja berhenti di tengah jalan. Semangat yang dulunya membara bisa tetiba surut. Tekad mencapai puncak yang kita azzamkan bersama pun bisa luput. Ini tentang konsistensi perjuangan. Bahwa bukan karena dan untuknya aku melangkah tapi karena janjiNya yang indah di atas sana.
Maka bersamalah dengan orang-orang yang bersungguh sungguh. Cari orang yang badannya penuh peluh namun semangatnya tak pernah luluh kmudian genggam dan bergeraklah bersama secara utuh.
Iman Ibnu Qayim mengatakan, ”Kedudukan sabar terhadap iman, ibarat kedudukan kepala terhadap badan. Maka tidak ada iman bagi orang yang tidak punya kesabaran, sebagaimana jasad juga tak berarti tanpa adanya kepala.”
Ada harga yang harus dibayar mahal untuk nikmat syurga yang akan dirasa. Nikmat tanpa syarat taat saja sudah banyak allah berikan dan kita semua rasakan. Terbayang sudah bagaimana nikmat yang allah beri berlipat jika kita taat. Taat untuk terus bertekad menempuh jalan panjang untuk mencapai puncak. Taat untuk terus bersama dengan mereka yang istiqomah dalam jalan panjang meski lelah mendera. Taat dalam menjaga amalan yaumiah di setiap pijakan jejak jalan panjang menuju puncak
Imam Syafii rahimahullah mengatakan: "Jika jiwamu tidak all out dalam ketaatan maka akan memalingkanmu dalam kemaksiatan."
"Barangsiapa yang mencari syahid dengan penuh kesungguhan, maka Allah akan mencapai hasratnya di kedudukan para Syuhada’ sekalipun dia mati di atas katilnya..” (HR. Muslim, Abu Daud,Tirmidhi, dan Ibnu Majah)
Insyaallah langkah bertasbihmu akan berbalas jannah.
Peluh lelah dirasa akan berganti senyum abadi di syurga.
Berjuanglah dan bersabarlah.
karena memang; Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami.
Trias Jayanti
Reli Tangerang


